Monday, August 07, 2006

Maradona Kecil

MARADONA KECIL

Semenjak ada murid baru, SDN 03 menjadi SD yang ditakuti dalam SepakBola, kemenangan demi kemenangan diraih berkat penyerang kecil dan lincah si anak Ajaib Achmad Djaenudin. Posturnya tidak begitu besar tetapi dia mempunyai kecepatan berlari dan mengolah bola sangat bagus, walau masih duduk di kelas lima tetapi dia tidak takut bila berhadapan dengan lawannya yang lebih besar dan lebih tua darinya. Pantas saja kalau dia dijuluki “Maradona Kecil”.

Achmad dilahirkan bukan dari keluarga sepakbola, Almarhum Ayahnya hanya seorang petani di kampung dan Ibunya Sekarang hanya seorang pembantu, Baru dua bulan Achmad dan Ibunya mengontrak rumah dipinggiran Kota. Sepulang sekolah Achmad biasa mencuci mobil, mengepel di rumah majikan ibunya. Dia memang anak yang rajin. Bakat bermain sepakbolanya mulai terlihat waktu dia tinggal di kampung dulu waktu ayahnya masih hidup.

Pagi itu seperti biasa Achmad pamit pada Ibunya, “Bu..!, Amat berangkat yah..!,” sambil memakai sepatu hitam yang sudah lusuh, karena memang digunakan sekolah dan untuk main bola. “Iya, Hati-hati!..pulang sekolah langsung bantu Ibu!, jangan main sepakbola dulu!,”. teriak ibunya dari dapur, Ibu Achmad memandang dari kejauhan Anak satu-satunya, sambil memandang sepatu Achmad yang memang sudah tidak layak lagi dipakai. “Ah,..Seandainya Ibu Mu punya Uang…,” Pikirnya dalam hati.

Siang Itu setelah latihan selesai semua berkumpul ditengah lapangan….“Semua pemain harus memakai sepatubola!, lusa di final, itu sudah peraturan dari panitia..!”, begitu ucapan Pak Hasan, Guru olahraga sekaligus pelatih tim sepakbola SDN 03 dan menutup latihan terakhir mereka. Maklum baru kali ini SD tersebut masuk final dan akan melawan Salah satu sekolah ternama juara tahun lalu. Semua pemain bubar setelah pengarahan itu, kecuali Achmad yang termenung di pinggir lapangan……, “Mana mungkin Aku dapat sepatu bola secepat itu?,”. pikirnya dalam hati, sambil berkemas untuk pulang. Diperjalanan Achmad masih memikirkan perkataan Pak Hasan tadi, “Ibu pasti tak punya uang untuk beli sepatu…, Jangankan sepatu bola, sepatu sekolahpun aku sudah rusak,”. gumannya. “kalaupun Aku dibelikan, Ibu pasti mendahulukan sepatu untuk Sekolahku,”. pikirnya lagi. Sepanjang jalan Achmad masih saja memikirkan perkataan Pak Hasan tadi, Sekolahnya pasti mengharapkan kehadiran nya di final, dan Ia tidak mau mengecewakan Sekolahnya. “Aku harus dapat sepatu bola..!, tanpa meminta pada Ibu..,” Tekadnya. Achmad terus berlari, menyusuri jalan yang setiap hari Ia lalui, dan Ia lalu berhenti karena pandangannya tertuju pada suatu benda dipinggir jalan. Achmad mengambil benda tersebut. Ternyata sebuah dompet hitam, mulanya Ia tidak berani membukanya tetapi Ia berpikir Ia harus melihat Identitas pemiliknya dan disitu tertulis jelas R. Pardede, JL. Markisa No. 20. “Sudah Jelas..Aku harus mengembalikannya,” gumannya sambil berlari menuju alamat tersebut.

Akhirnya Achmad sampai pada suatu rumah ber cat putih, “Ini pasti rumahnya.., nama jalan dan alamatnya sama”, gumannya sambil mengetuk pintu. Tak lama pintu dibuka dan seorang Nenek keluar dari balik pintu sambil berkata “Ada apa Nak..?, Ada yang bisa Nenek Bantu?,”. Achmad masih tertegun didepan pintu, Ia belum berkata apa-apa sampai si Nenek mengulangi lagi pertanyaannya tadi. “Apa benar ini rumah Bapak R. Pardede..?,” Tanya Achmad. “Benar Nak..silahkan masuk, Bapak ada di dalam..,”. Achmad masuk mengikuti si Nenek, di ruang tamu Ia melihat ada banyak Foto dan piala. Sampai pada suatu Foto besar Achmad berdiri memandangi Foto bertuliskan “Kesebelasan Nasional – 1977”. “Itu yang ditengah Bapak waktu memperkuat Kesebelasan Nasional Negeri ini, sekarang bapak sakit ada didalam, silahkan masuk bapak ada di kamar,” suara Nenek tiba-tiba dari belakang Achmad. Sambil berjalan Ia masih tidak percaya bahwa yang Ia datangi adalah seorang pemain Nasional, yang membela negeri ini. “Pasti Ia pemain hebat dulu…,”. Langkah Achmad terhenti seperti tidak percaya bahwa yang terbaring di tempat tidur adalah orang yang dimaksud. Tubuhnya kurus, mukanya pucat, dan tampaknya Ia sedang sakit. Achmad mengulurkan tangan sambil menunjukan Dompet yang Ia temukan. “Nama Ku Achmad, Aku menemukan ini mungkin milik bapak terjatuh di jalan..,”. Tanpa berpikir panjang Kakek tersebut mengambil dompet dan membukanya sambil berkata, “Benar Ini dompet Kami, Istriku tadi membawa dompet ini untuk membeli Obat, mungkin terjatuh, Terimakasih Nak Kamu Anak yang Baik,”. Selanjutnya Mereka berdua seperti teman lama yang baru bertemu terlibat pembicaraan seputar sepakbola, sambil menikmati hidangan gorengan dari Nenek. Banyak hal yang diceritakan Kakek mulai dari Strategi sampai sportifitas, ini merupakan pengetahuan yang Bagus buat Achmad, Sampai suatu saat Achmad tertunduk sambil berkata “Saya tidak punya sepatubola untuk final Lusa..,”. Suara Achmad pelan sambil memainkan jarinya di lantai, Si Kakek tersenyum Sambil berkata :”Bu, tolong Ambilkan sepatu bola Rudi di belakang,”. Rudi adalah Cucu Kakek, dulu sebelum Bapaknya ditugaskan dan menetap di Luar Kota Ia setiap minggu berlatih dengan Kakeknya. “Mungkin Pas dengan Kaki Kamu Nak..,”. kata Nenek sambil menyerahkan Sepasang sepatubola hitam. Tanpa pikir panjang Achmad lalu mencobanya dan memang cocok dengan kaki Achmad. Mereka semua tersenyum. “Gunakan Itu di final dan jangan lupa setelah pertandingan ceritakan semua kejadian di lapangan, Kakek mau dengar Kamu menjadi Bintang Lapangan,”. Ujar Kakek. “Aku janji Akan mempersembahkan kemenangan untuk Kakek..!,” Seru Achmad meyakinkan. Dan Achmad pamit pulang dengan semangat baru.

Sorak sorai penonton belum juga reda, padahal pertandingan sudah selesai sepuluh menit yang lalu, mereka masih saja mengelu-elukan Achmad Djaenudin si pencetak tiga Gol dalam pertandingan itu yang berkesudahan 3 – 0 untuk SDN 03. Tapi dalam benak Achmad sudah tidak sabar lagi untuk menceritakan kepada Kakek, Bagaimana Ia mencetak ke tiga Gol tersebut. “Kakek Pasti senang mendengar bagaimana Aku mencetak dengan sundulan kepala Gol pertama, melawati tiga Pemain untuk mencetak Gol ke dua, dan satu gol lagi dari tendangan bebas..”, begitu di benak Achmad, dan yang lebih penting lagi Ia menerapkan semua pesan Kakek untuk bermain dengan Sportif. Sambil berlari Achmad terus membayangkan bagaimana senangnya Kakek mendengar berita ini, ketiadaan Ayahnya membuat Achmad merasa sekarang sudah mempunyai lagi orang yang bisa Ia ajak diskuisi masalah hobinya ini, sambil menenteng sepatu pemberian Kakek, Achmad terus berlari menuju rumah Kakek, melewati jalan yang mempertemukan Ia dengan Kakek dan akhirnya Achmad sampai pada rumah ber Cat putih itu lagi, tapi dengan suasana yang berubah, banyak orang disana dan bendera kuning dipagar rumah. Achmad sudah mengerti dengan apa yang terjadi, Ia menghampiri Nenek yang duduk di samping jenazah Kakek sambil berucap “Maafkan Achmad Kek, Achmad terlambat datang….,”. Nenek merangkul Achmad sambil membisikan di telinga Achmad bahwa Kakek meninggal satu jam yang lalu karena penyakitnya itu dan Ia menitipkan surat untuk Achmad.
Begitu singkat kenangan dengan Kakek semua begitu cepat, sore itu setelah penguburan Kakek Achmad membaca surat dari Kakek di pinggir lapangan.
“Buat Maradona Kecil….”
“Semua biaya sekolah Kamu sudah ditanggung oleh Anak Kakek, Ia seorang pelatih sepakbola, dan Kami mengharapkan Kamu menjadi Pemain Hebat untuk Negeri ini.”

Achmad menyusuri jalan yang itu lagi untuk pulang, di pandanginya tempat Ia menemukan dompet Kakek, Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi, Ia menyusuri lorong gang kecil di apit rumah mewah dan gedung yang tinggi untuk menuju rumahnya, terus berlari dipinggir jalan yang dipenuhi mobil mewah ber AC berisi anak sekolah sebayanya, melewati gedung tempat bermain futsal, Lalu Ia mendongak ke Atas dan berkata dalam hati “Kakek Benar, Aku harus jadi Pemain Hebat untuk negeri ini”.

1 comment:

Anonymous said...

Lumayan Bagus